Riwayat Para Khalifah dan Tokoh Islam Dunia »
Ingin menambah wawasan anda terhadap Islam dan para tokoh-tokoh pemuka Agama Dunia Yang tersohor seperti Abu Bakar As-Sidiq, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan? Silahkan klik !!
http://waroengpodjok-g.blogspot.com
WELCOME !
Assalamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

TA'RIF (PENGERTIAN) FATHONAH BITONAH BUDI LUHUR

Fathonah Bithonah Budi Luhur (disingkat; FBBL) adalah salah satu konsep yang sering dijadikan sasaran tembak oleh gerombolan Salep untuk menyerang Jamaah, mereka menuduh bahwa jamaah melegalkan kebohongan dg atas nama FBBL, atau jamaah sama dg Syiah sbb orang2 Syiah mengamalkan konsep “Taqiyah” (kebohongan dijadikan alat untuk merahasiakan gerakan dakwah mereka, bahkan mereka meyakini orang yang tdk bertaqiyah itu hukumnya; Kafir).

Dan propaganda Salep ini sedikit agak berhasil dg bukti ada beberapa jamaah yg mulai pangling dan “risih” dg istilah FBBL bahkan diantaranya sampai selingkuh pada Salep, karena terpengaruh “dongeng khayalan”nya Salep bahwa di dalam Islam tdk ada FBBL.


Dalam artikel ini saya ingin share pemahaman dan pengamalan yang benar dari konsep FBBL berdasarkan dalil-dalil shahih dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

TA’RIF FATHONAH
Fathonah arti ‘lughat”nya adalah; cerdas, pandai atau pintar, adapun arti istilah “maksud”nya adalah: Pandai menyesuaikan diri kaitannya ketika akan menyampaikan sesuatu, pepatah bhs Arab mengenal istilah; لِكُلِّ مَكَانٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٌ مَكَانٍbagi setiap tempat (ada aturan) pembicaraannya, dan setiap pembicaraan ada tempatnya. Atau istilah orang Jawa; Papan, Empan, Adepan. Nasehat dari Khalifah Ali;

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَن يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُولُهُ
Ceritailah manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian senang jika Allah dan Rasul didustakan ? HR. Al-Bukhari : 1/127

Sebenarnya Fathonah adalah salah satu sifat orang2 iman yaitu; sidiq, amanah, fathonah. Jadi aneh kalau orang yang mengaku ahli Sunnah kok tidak kenal istilah Fathonah sedangkan group penyanyi “Projek Pop” saja memasukkan istilah Fathonah di dalam lirik lagu mereka yang berjudul “Batal Kawin”; cari istri....yang amanah…, fatonah dan juga istiqmah … (silahkan diteruskan sendiri he.he..he..)

Konsep Fathonah ini hanya boleh dilakukan jika ada sebab dharurat, hal ini juga berlaku bagi perempuan yang dituntut untuk menjaga kehormatan suaminya. Al-Khalil Nabi Ibrahim alaihis salam memerintahkan putranya (Nabi Ismail alihis salam) untuk menceraikan isterinya gara-gara sang isteri tidak berfathonah ketika menceritakan “apa adanya” keadaan rumah tangga mereka (yang dalam keadaan serba kekurangan).

Padahal kalau menurut konsep pemahaman para Salep seharusnya apa yang dilakukan oleh istri Nabi Ismail itu adalah akhlaq yg mulia sebab berani bicara jujur apa adanya tentang kenyataan yang sesungguhnya tanpa mengubah fakta, tapi itu pemahaman yang menyimpang dan salah besar, sehingga Nabi Ibrahim memutuskan; Perempuan seperti itu tidak layak menjadi istri bagi putranya.

Ala kulli hal, Fathonah tidak boleh dilakukan tanpa sebab-sebab tersebut, sebab Fathonah yang tanpa sebab adalah dusta yg menyebabkan pelakunya terancam neraka.
إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
Takutlah kalian akan dusta, sesungguhnya dusta menunjukkan kepada kedurhakaan dan sesungguhnya durhaka menunjukkan pada neraka. HR. Abu Dawud : 4989

TA’RIF BITHONAH
Arti dari bithonah adalah; Teman dekat yang menjadi tempat kita berbagi cerita termasuk dalam masalah-masalah yang bersifat pribadi, istilah Bithonah ini dapat kita jumpai di dalam Al-Qur’an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi “bithanah” (teman kepercayaanmu) orang-orang yang di luar kalanganmu. QS. Ali Imran : 118

Dan Al-Hadits, sabda Nabi S.A.W;
إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا وَلَا خَلِيفَةً إِلَّا وَلَهُ بِطَانَتَانِ، بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَاهُ عَنْ الْمُنْكَرِ، وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوهُ خَبَالًا.
Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang Nabi dan juga Khalifah melainkan baginya dua “bithonah” (teman kepercayaan), satu jenis “bithanah” yang memerintahnya pada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran, dan satu bithanah lagi tidak menghentikannya dari kerusakan. HR. At-Tirmidzi : 2369.

TA’RIF BUDI LUHUR
Adapun Budi Luhur itu adalah bahasa Jawa/Indonesia dari kalimat “Akhlaqul Karimah”, mencakup semua sifat dan thabiat yang mulia, seperti sikap sabar, tawadhu’ (merendah diri) sopan-santun, jujur dan amanah dsb. Budi luhur ini sebenarnya wajib menjadi akhlaq thabiat setiap jamaah, sbb salah satu misi dakwah Rasulullah S.A.W adalah memperbaiki thabiat umatnya agar “berakhlaqul karimah”.

BUKTI BUKTI PRAKTEK FATHONAH PADA PARA NABI DAN SALAFUS SHOLIH.
  • Nabi Ibrahim mengajarkan kepada istrinya (Sarah) agar kalau raja Namruj menanyakan apakah hubungan mereka berdua, maka supaya dijawab bahwa Nabi Ibrohim itu saudaranya, sebab kalau Sarah jujur dg mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah suaminya Sarah maka Nabi Ibrahim akan dibunuh. HR. Al-Bukhari

  • Kisah Ghulam (anak kecil) yang diajari oleh Rahib (gurunya) kalau ditanya oleh tukang Sihir mengapa dia terlambat datang supaya dijawab; di rumah banyak pekerjaan, sebaliknya kalau orang tuanya tanya mengapa pulangnya lambat ? maka supaya dijawab; Tukang sihir memberi pelajaran tambahan. HR. Muslim

  • Abu Hurairah mengatakan bahwa ilmu yang dia dapatkan dari Rasulullah S.A.W ada dua kantung, yang satu kantung sudah di sebarkan sedangkan yang satu kantung lagi tidak dia keluarkan sebab kalau dia sebarkan maka resikonya dia akan dibunuh. HR. Abu Dawud

  • Sahabat Ammar bin Yasir yang diajari oleh Nabi S.A.W kalau orang kafir Quraisy menyiksanya dan memaksanya untuk mengucapkan makian kepada Rasulullah maka hendaklah dituruti, sebab kalau tdk maka Ammar akan disiksa bahkan dibunuh. Tafsir Ibnu Katsir

KESIMPULAN :
  • Fatonah Bithonah Budi Luhur kalau dalam arti sederhana adalah kearifan sikap dalam menyampaikan suatu fakta yang khusus (tidak boleh disampaikan dengan sembarangan), sbb jika diceritakan pada orang atau tempat yang tidak tepat maka akan berdampak negative, contohnya; Semua orang tahu bhw laki2 dan perempuan itu punya “senjata” rahasia, tapi tidak boleh sembarangan dibuka, jangan hanya karena mengikut logika semua orang sudah tahu bhw setiap lelaki punya “senjata rahasia” maka dia nekat mempertunjukkan “senjata antic”nya pada orang banyak, kemana2 dia telanjang bulat tdk memakai pakaian, wah.... gawat bisa2 langsung diamankan ke Rumah Sakit Jiwa.

Namun kalau pada “yang berhak” yaitu suami atau istri, itu wajib dibuka (disampaikan) sbb kalau tidak; wah berabe...., jangan-jangan seperti kisah di Bekasi seorang lelaki yang ditipu oleh “istri”nya, selama 6 bulan dia piker menikahi pramugari, ternyata “istri” yg dia nikahi juga lelaki, jeruk kok makan jeruk he..he..he..

  • FBBL adalah salah satu alat perjuangan para Nabi dan Salafus Shalih, maka mau tdk mau setiap orang yg memperjuangkan Al-Haq (QHJ) pasti akan memerlukan alat ini. Kalau saat ini kita jumpai adanya tokoh di dlm jamaah yg salah dlm menafsirkan dan mempraktekkan FBBL itu karena memang yg bersangkutan belum memahami hakekat FB atau sdh mengetahui tapi sengaja fasiq, maka "oknum pengurus itu sendirilah yg harus diluruskan akhlaqnya, dan bukan konsep FBBLnya yg salah.

18 komentar:

nadyavaizal mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

mdh2 an semangat FBBL nya bisa menjadikan islam sebagai "rahmatan lil alamin"
"dengan saling koreksi dan saling memperbaiki ..bukan saling menjelekan dan saling mengkafirkan .

Anonim mengatakan...

sifat-sifat khawarij adalah :

1. Mengkafirkan orang yang berbuat dosa besar dan menghukum kaum Muslimin yang tidak sepaham dengan mereka dengan kafir.

2. Tidak mengikuti ulama-ulama kaum Muslimin baik dalam akidah maupun dalam amalan.

3. Keluar dari jamaah kaum Muslimin, dan melakukan muamalah dengan kaum Muslimin sebagaimana muamalah dengan kafir, serta menghalalkan harta dan darah mereka.

4. Memakai “nash-nash” amar makruf dan nahi munkar kepada pendapat-pendapat para ulama dan menghina mereka serta membunuh sesiapa yang bercanggah (berlawanan) dengan pendapat mereka.

5. Mayoritas mereka sibuk dengan membaca Al-Quran tanpa memahaminya dengan pemahaman yang baik.

6. Menampakkan tanda-tanda yang zahir dalam ibadah dan berlebih-lebihan dalam ibadah sehingga menghina ibadah kelompok yang lain.

7. Lemah dalam ilmu fiqah (fikih) dan seluk beluk hukum syariat.

8. Berpendapat tanpa rujukan kepada sahabat, atau ulama fiqah (fikih).

9. Merasa lebih hebat daripada ulama terdahulu, sehingga kadang-kadang merasa lebih hebat daripada ulama mujtahidin dan sahabat.

10. Keliru dalam metodologi mengambil keputusan hukum sehingga mengambil ayat ancaman tanpa melihat ayat-ayat janji; mengambil ayat-ayat yang untuk orang kafir ditujukan kepada orang Muslim yang tidak sepaham dengan mereka sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Umar: Mereka mengambil ayat untuk orang kafir ditujukan kepada orang Muslim. ”

11. Kurang ilmu dengan sunnah dan hadits nabi yang sangat luas, dan hanya mengambil yang suai dengan pemahaman mereka sahaja.

12. Mengangap setiap orang yang tidak sepaham dengan mereka sebagai salah dan sesat, tanpa meneliti lebih mendalam.

13. Memutuskan sesuatu tanpa ilmu yang mendalam, dan kajian yang luas.

14. Bersikap kasar, keras, tanpa memahami keadaan orang lain, dan suka bertengkar dengan orang lain.

15. Menghukum sesuatu hanya dengan anggapan dan dzan,

16. Tidak memiliki wawasan yang luas, berpikiran sempit, tidak sabar, dan ingin mendapatkan natijah (nilai) amal dengan segera.

17. Memusuhi dan memerangi sesama kaum Muslimin, dan membiarkan kaum kafir serta kaum penyembah berhala. (Nasr al Aql, AlK hawarij, hal..26)

Anonim mengatakan...

ini yang nulis blog,secara diksi dah berabe,nyomot kalam dan hadits tambah gawat,semoga d tunjukan pada majelis yang sahih,minimal les bahasa.

Kang edi mengatakan...

Secara teori bagus mas, tapi prakteknya banyak hal yang ditutupi untuk ngeles dari kerusakan-kerusakannya...inilah kalau berilmu tanpa bimbingan dari para ulama salafussholeh. tanpa para sahabat kita tdk akan tahu persis maksud2 dalam hadits. maka dibutuhkan atsar2 para sahabat dalam menerjemahkan hadits2 Rosululloh, karena merekalah yang MELIHAT,MENDENGAR dan MEMPRAKTEKAN printah-perintah Rosululloh.

Apakah di negeri ini kalau berbicara ttg Agama akan dibunuh spt zaman Rosululloh di Mekkah....?????????

Apakah di negeri ini Dakwah Tauhid dilarang.........?????

pasti ajaran FBBL dimaksud adalah untuk menutupi borok-borok kesesatan yang ada pd jamaah ini.....

inilah yang ane maksud ..belajar Quran Hadits tanpa bimbingan ilmu dari Ulama yg Sholeh....

tidak tahukan anda wahai LDII bahwa akhir Zaman nanti golongan yang selamat ini akan senantiasa menampakan AL Haq...

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran. Tidaklah masalah bagi mereka adanya orang-orang yang tidak mau menolong mereka. Demikianlah keadaan mereka sehingga datanglah ketetapan Alloh (baca:hari Kiamat)” (HR Muslim no 5059).

Mengapa ditutupi...?????

karena ajarannya MENYIMPANG........

1. MANKUL(ane tdk yakin kalo Nur hasan bs mankul setiap hadits yg ada pd kitab2 hadits) tes aja hafalan2nya....kalo dia masih pake kitab2 ya...berarti dia mankul nya sama penerbit kitab. teori Mankul tujuannya untuk membuat orang fanatik pd golongannnya.
2. JAMAAH (pengertiannya berbeda dg pemahannya para sahabat )
3. IDIOLOGI TAKFIR (selain jamaahnya kafir)

lebih lanjut silakan kunjungi http://airmatakumengalir.blogspot.com

mudah2an Alloh memberi hidayah kepadamu....

Anonim mengatakan...

Apakah di negeri ini kalau berbicara ttg
Agama akan dibunuh spt
zaman Rosululloh di
Mekkah....?????????
Apakah di negeri ini Dakwah Tauhid dilarang.........?????


Negara memang tidak melarang, tapi apa sebagian muslim yg tidak sepaham dan sepandangan lantas semua menerima dgn tidak melakukan kekerasan?
Adanya ijtihad fathonah-bithonah itu bermula karena jamaah sering digegeri masyarakat (bukan pemerintah) yg belum mengerti atau memang berbeda pandangan.. Perhatikan bedanya bos..
Lalu apakah ijtihad fathonah-bithonah itu hal yg paten selamanya? Tidak, semua bergantung sikon yg ada, jika umat muslim indonesia sudah dewasa menyikapi perbedaan tanpa kekerasan, saya yakin fathonah-bithonah dlm beramir juga akan dimansuh, karena pada hakekatnya, UNTUK APA MENYEMBUNYIKAN BARANG HAQ?

Fahami dan renungkan..

Anonim mengatakan...

Coba kita berandai-andai, adanya ijtihad fathonah-bithonah itu (jika anda faham sejarah) dimulai ketika pada rezim orde baru, sudah barang tentu anda mengerti bgmn pandangan ordebaru dlm menyikapi hal2 demikian yg mengganggu stabilitas negara.. pertanyaannya, apakah mungkin di zaman ordebaru jamaah dengan lantang bersuara bahwa, inilah amir yg harus kami taati bukan toghut suharto yg berpedoman pada hukum manusia, bukan hukum quran hadits!! Atau misalkan berseru pada saudara muslim yg organisasinya lebih tua dgn ajakan tetapilah islam dgn berjamaah dan ikutlah pada keimaman kami..

Kira2 jika demikian, apa anda dan saudara muslim lain waktu itu mau menyikapi dgn dewasa dan tanpa kekerasan?

Unknown mengatakan...

LDII IS THE BEST,.... THE TRUE FORM OF ISLAM

Anonim mengatakan...

Apakah Islam bisa ga pake Pemimpin:
“Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Menetapilah kamu (Hudaifah bin Yaman) pada jamaah muslimin dan imam mereka (artinya: carilah Islam yang berbentuk jama’ah dan yang mempunyai imam sebagai pemimpinya), aku (Hudaifah bin Yaman), berkata: “(Bagaimana) jika tidak ada jama’ah dan imam mereka? Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Uzlah-lah (Pisahilah) segala bentuk firqoh-firqoh (ada 72 firqoh Islam), sekalipun kamu hanya makan akar / umbi pohon sehingga maut menjemput kamu sementara kamu atas keadaan demikian”. (HR. Bukhori, Kitabul Fitan).

Apa pemimpin ga pake BAEAT:
“Barangsiapa melepas tangan dari taat akan bertemu dengan Allah pada hari kiyamat dengan tidak punya alasan. Dan barangsiapa mati sedang tidak ada ikatan bai’at pada lehernya maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh : II/136)

Dari Ibnu abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah barang satu jengkal saja lalu ia mati maka kematiannya berada dalam kejahiliyaan”.(HR.Muslim 3/1477 No.1849)

Apa MATI JAHILIYAH BERARTI MASUK SURGA:
Yang dimaksud “seperti mati Jahiliyah” adalah kematian dalam kesesatan, perpecahan dan tidak mempunyai imam yang dibaiat dan ditaati. (Hamisy Shahih Muslim II/136)

Apa MATI "DALAM KESESATAN" itu BERARTI MASUK SURGA:

Apakah Presiden di Negara Sekuler yang terpilih melalui PEMILU yang jelas jelas mencalonkan diri itu bisa di BAEAT:
“Sekalipun kamu dipimpin oleh seorang budak Habsyi yang rumpung hidungnya, wajib kamu mendengar dan mentaatinya selama ia memimpin kamu dengan Kitabullah.” (HR.Ibnu Majah dari Ummul Hushain dalam bab Tha’atul Imam: II/201, Muslim, Shahih Muslim: II/130, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi: IV/181 No.1706. Lafadz Ibnu Majah)

“Saya dan dua orang dari kaumku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka salah seorang dari keduanya berkata: “Ya Rasulullah, jadikanlah kami sebagai amir.” Dan yang lainnya pun berkata demikian. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kami tidak memberikan keamiran ini kepada seseorang yang memintanya dan yang menginginkannya (ambisi).” (HR.Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/80)

Anonim mengatakan...

TETAPILAH Al JAMAAH:
1. Umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- di atas kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah, dan barang siapa yang menyempal maka dia menyempa menuju neraka.- Tirmidzi, Bab Maa Ja’a fi Luzumil Jamaah, No. 2167

2. “Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Alloh dengan jama’ah, dan janganlah kamu sekalian firqoh”. (QS. Ali ‘Imron,No. Surat: 3, Ayat: 103).

3. “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bergolong-golongan),dan ingatlah akan ni’mat Allah atas kamu tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah jinakkan antara hati-hati kamu, maka dengan ni’mat itu kamu menjadi bersaudara, padahal kamu dahulunya telah berada di tepi jurang api Neraka, tetapi Dia (Allah) menyelamatkan kamu dari padanya; begitulah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali ‘Imran:103 )

4. “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rosululloh dalam ‘Amrin Jaami’in’ (sambung berjama’ah; sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan), mereka tidak meninggalkan (Rosululloh) sebelum meminta idzin kepadanya. Sesungguhnya orang-orangy ang meminta idzin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka apabila mereka meminta idzin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah idzin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nuur, No. Surat: 24, Ayat: 62).

5.“Maka sesungguhnya saja, barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah kira-kira satu jengkal, maka sungguh tali Islamnya telah lepas dari lehernya kecuali jika ia kembali lagi”. (HR. Abu Daud).

6. “Maka sesungguhnya saja, barangsiapa yang memisahi Al- Jama’ah satu jengkal saja, lalu ia mati, maka ia mati dengan kematian jahiliyah”. (HR. Bukhori).

7. Kamu sekalian menetapilah pada Al-Jama’ah, dan takutlah kamu sekalian pada Al-Firqoh, maka sesungguhnya syetan bersama satu orang dan syetan itu akan menjauh dari dua orang, dan barangsiapa yang ingin berada di tengah-tengah surga maka hendaklah dia menetapi Al-Jama’ah”. (HR. Tirmidzi juz 3 hal 207).

8. “Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, mereka semua masuk di dalam neraka, kecuali hanya satu golongan (yang tidak masuk neraka). Mereka (sahabat) berkata: “Dan siapakah yang satu golongan itu, ya Rosulalloh? Rosululloh, bersabda: “yaitu (golongan) yang mengerjakan apa yang saya kerjakan dan yang dikerjakan oleh sahabat-sahabat saya”. (HR. Tirmidzi, No. Hadits: 2565).

9. “Barangsiapa yang beramal dalam Jama’ah, lalu benar, maka Alloh menerimanya, dan jika salah, Alloh mengampuninya. Dan barangsiapa yang beramal mencari yang Firqoh, lalu benar, maka Alloh tidak akan menerimanya, dan jika salah, maka hendaklah ia bertempat duduk pada tempat duduknya dari api (mak: di neraka)”. (HR. Thobrooni).

10. “…maka wajib atas kamu berjama’ah, karena sesungguhnya serigala itu makan kambing yang sendirian.” (HR.Abu Dawud dari Abi Darda, Sunan Abi Daud dalam Kitabus Shalah: I/150 No.547)

11. “Dan tangan (pertolongan) Alloh atas Al-Jama’ah, dan barangsiapa yang membelot, maka ia membelot ke neraka”. (HR. Tirmidzi).

Anonim mengatakan...

Al JAMAAH: adalah Wadah ISLAM dengan Baiat:
1. “Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Menetapilah kamu (Hudaifah bin Yaman) pada jamaah muslimin dan imam mereka (artinya: carilah Islam yang berbentuk jama’ah dan yang mempunyai imam sebagai pemimpinya), aku (Hudaifah bin Yaman), berkata: “(Bagaimana) jika tidak ada jama’ah dan imam mereka? Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Uzlah-lah (Pisahilah) segala bentuk firqoh-firqoh (ada 72 firqoh Islam), sekalipun kamu hanya makan akar / umbi pohon sehingga maut menjemput kamu sementara kamu atas keadaan demikian”. (HR. Bukhori, Kitabul Fitan).

2. “Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepadamu sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang mengingkari bai’atnya niscaya akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa yang menepati bai’atnya, maka Allah akan memberikan pahala yang besar.” (Q.S. Al Fath : 10).

3. “Barangsiapa melepas tangan dari taat akan bertemu dengan Allah pada hari kiyamat dengan tidak punya alasan. Dan barangsiapa mati sedang tidak ada ikatan bai’at pada lehernya maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh : II/136)

4. Yang dimaksud “seperti mati Jahiliyah” adalah kematian dalam kesesatan, perpecahan dan tidak mempunyai imam yang dibaiat dan ditaati. (Hamisy Shahih Muslim II/136)

5.Dari Ibnu abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah barang satu jengkal saja lalu ia mati maka kematiannya berada dalam kejahiliyaan”.(HR.Muslim 3/1477 No.1849)

6. “Tiga macam orang yang Allah tidak akan berkata kata kepada mereka pada hari kiyamat dan tidak akan membersihkan (memaafkan), dan bahkan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itu adalah: 1) Orang yang mempunyai kelebihan air di tengah jalan tetapi menolak permintaan orang yang dalam keadaan bepergian, 2) Orang yang berbai’at pada seorang imam, tetapi tidaklah ia berbai’at kecuali karena dunia, jika diberi menepati bai’atnya dan jika tidak diberi (ditolak tuntutannya) ia tidak menepatinya, 3) Orang yang menjual barang pada orang lain setelah ‘Ashar dan bersumpah dengan nama Allah, sungguh akan diberikan dengan ketentuan begini dan begini, lalu ia membenarkannya dan hendak mengambilnya, tetapi ia tidak memberikannya.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/99, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/204, At-Tirmidzi, Sunan At Tirmidzi IV/128 No: 1595. Lafadz Al-Bukhari)

7. “Dahulu bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap meninggal seorang Nabi diganti oleh Nabi lainnya, sesungguhnya setelahku ini tidak ada Nabi dan akan ada setelahku beberapa khalifah bahkan akan bertambah banyak, sahabat bertanya: ”Apa yang tuan perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: ”Tepatilah bai’atmu pada yang pertama (artinya baiat yang pertama dilakukan pada saat itu), maka untuk yang pertama dan berikan pada mereka haknya. Maka sesungguhnya Allah akan menanya mereka tentang hal apa yang diamanatkan dalam kepemimpinannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/204. Lafadz Muslim)

8. “Kami berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan semangat ataupun lemah (berat), dan untuk tidak menentang perintah kepada ahlinya serta untuk menegakkan (kebenaran) atau berkata dengan benar di manapun kami berada, tidak takut dalam membela agama Allah dari celaan orang-orang yang mencelanya.” (HR. Al Bukhari dari Ubadah bin Shamit, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/96, Muslim, Shahih Muslim: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/202, An-Nasai, Sunan An-Nasai VII/137-138. Lafadz Al-Bukhari)

Anonim mengatakan...

9. “Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada baiat, maka sungguh dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya”[Dikeluarkan oleh Muslim dari Ibnu Umar]

10. “Barangsiapa berjanji setia kepada seorang imam dan menyerahkan tangan dan yang disukai hatinya, maka hendaknya dia menaati imam tersebut menurut kemampuannya. Maka jika datang orang lain untuk menentangnya, maka putuslah ikatan yang lain tersebut”
[Dikeluarkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Abdillah bin Amr bin Ash]

11. “Dan barangsiapa yang berbaiat kepada seorang imam lalu bersalaman dengannya (sebagai tanda baiat) dan menyerahkan ketundukannya, maka hendaklah dia mematuhi imam itu semampunya. Jika ada yang lain datang untuk mengganggu imamnya (memberontak), penggallah leher yang datang tersebut.” (HR. Muslim no. 1844)

12. Dari sahabat nabi Abu hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda: “Barang siapa yang mentaati aku sungguh ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku”. (HR.Muslim 3/1466 No.1835)

Anonim mengatakan...



SEBERAPA PENTING BAIAT:
1. Dari Ibnu abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah barang satu jengkal saja lalu ia mati maka kematiannya berada dalam kejahiliyaan”.(HR.Muslim 3/1477 No.1849)

2. Dari sahabat nabi Abu hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda: “Barang siapa yang mentaati aku sungguh ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku”. (HR.Muslim 3/1466 No.1835)

3. “Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada baiat, maka sungguh dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya”[Dikeluarkan oleh Muslim dari Ibnu Umar]

Ada Banyak Wadah ISLAM dengan Baiat apa yang harus dilakukan?(misal:JI, MMI, JAT, MTA, dll..):
“Dahulu bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap meninggal seorang Nabi diganti oleh Nabi lainnya, sesungguhnya setelahku ini tidak ada Nabi dan akan ada setelahku beberapa khalifah bahkan akan bertambah banyak, sahabat bertanya: ”Apa yang tuan perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: ”Tepatilah bai’atmu pada yang pertama (artinya baiat yang pertama dilakukan pada saat itu/ yang paling duluan melakukan baiat), maka untuk yang pertama dan berikan pada mereka haknya. Maka sesungguhnya Allah akan menanya mereka tentang hal apa yang diamanatkan dalam kepemimpinannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/204. Lafadz Muslim)

Anonim mengatakan...

Apa pengertian atau definisi jama'ah beserta dalil2 nya? Adakah jama'ah diluar negeri seperti yg LDII gaungkan? Mohon penjelasannya karena saya benar2 masih awam dan ingin mencari agama yg benar2 haq dan murni sesuai dgn yg dbawa rosululloh.

Anonim mengatakan...

AssalaamuAlaikum.
Saudara saya bukan mau nyorotin siapa2..cuma ingin tahu aja..

Istilah FBBL ini, apakah tidak bertentangan dgn sabda Nabi S.A.W (Muslim tidak boleh berbohong melainkan 3 kondisi; 1-memperbaiki hubungan orang yg lg saling benci; 2-bohong antara suami isteri yg bersifat memuji; 3-ketika waktu lagi perang sdg berlaku)..
tolong dijawap ya. jazaKallahuKhoiron

Unknown mengatakan...

Islam mana yg bisa cari pengikut sebanyak orang jamaah,,, semuanya firqoh, rebutan dunia...

Bobong indonesia mengatakan...

sekarang sudah 2019 tapi fatonah bitonah dan budiluhur blm juga di mansuh ?

penjelasan diatas terkait budi luhur tidak mencerminkan realita secara praktek, malah lebih sesuai jika dimaknai berbohong.

contoh : diijtihati jika Sholat di belakang orang selain kelompok ini maka niatkan sholat sendiri.
hari jumat jika tidak ada masjid mereka maka sholatnya di rumah setelah melaksanakan budiluhur (sholat jumat di masjid luar)

jadi kesimpulannya, kata budiluhur oleh kelompok ini tidak digunakan sesuai konteksnya tapi gunakan sebagi kata yg bermakna untuk berbohong.

Anonim mengatakan...

Barangsiapa yang menafsirkan QHJnya dengan pendapatnya sendiri (yang bersandar pada ajaran faham takfirinya) walaupun benar maka sungguh sungguh salah. Karena Ayat-ayat yang seharusnya ditujukan kepada orang kafir non agama Islam. Ini malah ditujukan kepada orang orang mu'min yaitu sesama agama Islam itu sendiri. Ingatlah agama Islam itu milik Allah, bukan milik golongan, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda bahwa diakhir zaman akan muncul dari segolongan umatku ia membaca Al Qur'an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka ia keluar dari din sebagai mana keluarnya anak panah dari busurnya. Karena agama Islam diluar golongan anda itu dianggap kafir. Barangsiapa yang ingkar dan mendustakan rukun rukunnya agama Islam yang Allah dan rasul-nya tetapkan sebagai aqidahnya umat Islam itu sendiri dianggap kafir dan memperolok olokan ayat-ayatnya itu sendiri dianggap gak kanggo amalan Islamnya guwak biyuk itu sama saja dengan mendurhakai apa yang sudah Allah dan rasul-nya tetapkan sebagai aqidahnya umat Islam itu sendiri. Barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-nya, maka sungguh dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.

Posting Komentar

Alhamdulillah Jazakumullahu Khoiro atas komentarnya !